Resensi Novel
Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Judul
: Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Pengarang : Tere-Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Ketujuh, September 2012
Jumlah halaman : 264 halaman
Pengarang : Tere-Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Ketujuh, September 2012
Jumlah halaman : 264 halaman
Kepengarangan
Tere
Liye (lahir di Sumatera
Selatan, Indonesia, 21 Mei 1979; umur 37 tahun), dikenal sebagai penulis novel. Beberapa karyanya
yang pernah diangkat ke layar kaca yaitu Hafalan Shalat Delisa dan Moga Bunda Disayang Allah. Meskipun
dia bisa meraih keberhasilan dalam dunia literasi Indonesia, kegiatan menulis
cerita sekedar menjadi hobinya saja karena setiap hari harus bekerja di kantor
sebagai seorang akuntan.
Sinopsis
“Dia bagai malaikat
bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang
miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah, dan janji-janji
masa depan yang lebih baik. Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan
kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan
lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini. Ibu
benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku,
Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan
sejak rambutku masih dikepang dua. Sekarang, ketika dia boleh jadi tidak pernah
menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah… biarlah aku
luruh ke bumi seperti sehelai daun… daun yang tidak pernah membenci angin meski
harus terenggutkan dari tangkai pohonnya”
Daun yang jatuh tidak pernah membenci angin, berkisah
tentang kenangan dan cinta yang dialami oleh seorang gadis cantik dan pintar
bernama Tania. Seperti sebuah lego yang disusun satu persatu hingga menjadi
utuh, kisah dalam novel yang di tulis oleh Tere Liye ini sanggup menghanyutkan
hati pembaca pada setiap potongan ceritanya. Ketika berumur 11 tahun, kerasnya
kehidupan membuat Tania dan Dede—adik Tania—terpaksa mencari uang dengan
mengamen dari satu bus kota ke bus yang lainnya, hal tersebut mereka lakukan
demi menghidupi diri mereka dan sang ibu yang sakit-sakitan. Ayah Tania
meninggal ketika Tania berumur 8 tahun.
Sejak
saat itu pula kehidupan mereka yang pas-pasan berbalik menjadi serba
kekurangan. Tania, Dede, dan Ibunya diusir dari rumah kontrakan lalu memutuskan
untuk tinggal di rumah kardus dekat dengan sungai dan tempat pembuangan. Ketika
Tania dan Dede sedang mengamen, tanpa sengaja Tania menginjak sebuah paku payung
pada telapak kaki tanpa alasnya. Tania kecil mencoba menahan rasa sakit
sementara adiknya hanya bisa panik tanpa tahu harus melakukan apa. Orang-orang
dalam bus hanya melirik Tania yang kesakitan tanpa rasa iba. Ketika itulah,
seorang pria muda datang menolong dan membalut kaki Tania dengan sapu tangan
putih miliknya. Pria itu bernama Danar, malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk
merubah kehidupan Tania, Dede, dan Ibunya. Lambat laun setelah beranjak dewasa,
gadis itu akhirnya sadar bahwa perasaan lugu yang diam-diam tumbuh di hatinya sejak
dulu bukanlah perasaan biasa selayaknya seorang adik kepada kakaknya. Danar menjadi pria yang
membuka babak baru yang lebih baik dalam kehidupan Tania, juga menjadi cinta
pertama baginya. Salahkah perasaan ini? Salahkah bila Tania menyukai seseorang itu, seseorang yang menjadi
malaikat bagi keluarganya?
Sudut pandang orang pertama yang
digunakan oleh Tere Liye dalam novel ini membuat emosi dan penyampaian melalui
sudut pandang Tania menjadi cukup baik dan dapat dinikmati pembaca. Alur
maju-mundur yang penulis ingin coba sampaikan dalam bercerita sama sekali tidak
membingungkan pembaca. Sang penulis sangat baik dalam merangkai sebuah cerita
hingga menemukan benang merahnya. Walau ini adalah kali pertama saya membaca
novel karya Tere Liye, nampaknya saya mulai jatuh cinta dengan gaya penulisan
yang sederhana namun bermakna khas beliau. Satu hal yang membuat saya ingin
memberikan komentar pada novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin yaitu
karakter Danar yang saya rasa kurang terlihat dan melekat di dalam cerita.
Mungkin karena di dalam novel ini, Tania seolah bercerita mengenai dirinya dan
perasaan cintanya, juga ia menceritakan tokoh Danar dari sudut pandangnya.
“…. Daun yang jatuh
tak pernah membenci angin…. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan
semuanya….”
sumber : http://hawasahara.blogspot.com/




Jakarta

0 komentar:
Posting Komentar